Kamis, 03 November 2011

Lintas Peradaban: Kisah Evolusi Dari Sangiran & Misteri Piramida Terpotong Candi Sukuh

 

Sangiran merupakan situs prasejarah yang terletak di perbatasan Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah. Kawasan yang memiliki luas ± 8x7 km 2 ini terkenal karena menyimpan kisah evolusi manusia. Di lokasi inilah, muncul salah satu pusat evolusi manusia di dunia yang terangkai dalam sebuah kisah panjang sejak 1,5 juta tahun yang lalu. 

Sejak ditemukan oleh G.H.R. von Koenigswald pada 1934, Sangiran kemudian menjadi objek penting bagi kajian arkeologi, geologi, maupun paleoantropologi. Diwakili oleh temuan fosil Homo erectus dan beberapa jenis alat batu, situs ini mampu memberikan gambaran evolusi manusia selama 1 juta tahun terakhir. Sebagaimana diketahui, dalam tahapan evolusi, Homo erectus merupakan spesies penting dalam tahapan kehidupan manusia sebelum sampai pada tahapan Homo sapiens (manusia modern). Dengan temuan Homo erectus  yang mencapai lebih dari 100 individu, Sangiran menjadi kontributor terbesar dari spesies ini di dunia karena populasinya mewakili lebih dari 50% Homo erectus yang pernah ditemukan di dunia.

Eksistensi Sangiran sebagai salah situs prasejarah tidak bisa dianggap sebelah mata. Sangiran tidak hanya mampu memberikan gambaran mengenai evolusi fisik semata, namun juga gambaran mengenai evolusi budaya dan lingkungan. Fosil-fosil hominid, fauna, dan alat-alat batu dengan kualitas dan kuantitas yang prima telah ditemukan di situs ini dalam suatu seri geologis-stratigrafis yang diendapkan tanpa terputus selama lebih dari 2 juta tahun. Oleh karena itu, Sangiran tampil sebagai situs yang sangat penting bagi pemahaman evolusi manusia secara umum, tidak hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga telah dianggap sebagai pusat evolusi manusia di dunia. Hal ini pula yang menjadikan Sangiran ditetapkan sebagai bagian dari World Heritage List oleh UNESCO sejak tanggal 5 Desember 1996.

Dilihat dari bentang alamnya, Sangiran merupakan sebuah dome (kubah) yang telah mengalami erosi di bagian puncaknya, sehingga menghasilkan cekungan besar di pusat kubah. Proses erosi inilah yang menyingkap lapisan-lapisan tanah yang ada sehingga memunculkan beberapa lapisan yang menggambarkan sejarah pembentukan Pulau Jawa secara umum dan kawasan Sangiran secara khusus dimulai sejak masih berupa lautan sampai menjadi daratan seperti kondisi saat ini.

Lapisan tanah merupakan salah satu data yang penting dalam kajian mengenai proses pengendapan dan kronologis waktu. Melalui lapisan tanah, peneliti mampu bercerita mengenai peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Demikian halnya dengan lapisan tanah yang ada di Situs Sangiran, lapisan tanah ini mampu menggambarkan kondisi lingkungan di Sangiran selama kurun waktu ± 2 juta tahun yang lalu sampai saat ini. Berdasarkan urutan stratigrafisnya, lapisan-lapisan tanah tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa formasi, yaitu Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan, Grenzbank, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro.

Selanjutnya terjadi pelipatan secara morfologi di Sangiran yang mengakibatkan terbentuknya kubah dan kemudian tererosi di bagian puncaknya sehingga terbentuk cekungan besar seperti kondisi saat ini. Lewat hal tersebut, kita dapat mengetahui gambaran kondisi lingkungan dan evolusi manusia yang terjadi selama kurun waktu 2,4 juta tahun. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Sangiran dan lapisan tanahnya merupakan aset berharga bagi pemahaman mengenai proses evolusi manusia dan perubahan lingkungan, baik di Indonesia maupun di dunia. 

Jika di Sangiran kita mendapatkan kisah evolusi fisik, budaya, dan lingkungan maka di Pegunungan Lawu, dengan berbalut kabut tipis kita akan disuguhi cerita menarik seputar alam pikir masyarakat Jawa Kuna. Di sini kita akan bertandang ke Candi Sukuh dan Ceto. Dua buah candi bernafaskan Hindu yang berasal dari abad XV.

Terletak di Desa Berjo, Kelurahan Ngargoyoso, Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah, Candi Sukuh telah menjadi perbincangan banyak orang –baik ahli maupun awam- sejak lama. Sebagian orang awam memberikan cap “porno” kepada candi yang bernafaskan agama Hindu ini. Sebabnya ialah relief yang dipahatkan di candi ini banyak yang vulgar. Begitu pula kehadiran simbol-simbol kesuburan seperti phalus dan vagina, semakin menguatkan pendapat bahwa candi ini kental dengan unsur erotisme. Sementara itu beberapa ahli berpendapat bahwa candi ini merupakan perwujudan dari penggunaan kembali konsep tradisi megalitik pada masa prasejarah. Hal itu didasarkan pada susunan candi yang bertingkat, makin ke belakang makin tinggi, mengingatkan kita pada bangunan punden berundak yang populer pada masa prasejarah. Bentuk bangunan induknya menyerupai piramida yang terpotong di bagian atas, juga mengantarkan rekam gambar sebuah kuil milik bangsa Aztec di pikiran kita. Stutterheim, seorang ahli purbakala berkebangsaan Belanda, berpendapat bahwa pintu gerbang Candi Sukuh lebih menyerupai pintu bangunan suci di Mesir. Ada juga yang menghubungkan gerakan mileniarisme –kepercayaan akan datangnya suatu zaman yang penuh kebahagiaan- masa Majapahit akhir dengan keberadaan Candi Sukuh di Pegunungan Lawu ini. Semua pendapat tentang Sukuh itu masih menjadi bumbu cerita ketika bertandang ke candi ini.

Relief-relief yang dipahatkan di Candi Sukuh, antara lain Sudhamala, Garudeya, dan Ramayana. Yang paling populer ialah relief Sudhamala yang berkisah mengenai pembebasan –ruwatan- Dewi Uma oleh Sadewa. Panel-panel relief yang dipahatkan dengan gaya Jawa Timur Klasik, digambarkan seperti wayang, menjadi daya tarik tersendiri di candi ini. Ada juga cerita seputar prasasti-prasasti yang ditemukan di Candi Sukuh. Ternyata huruf Jawa Kuna yang digunakan merupakan varian yang berbeda dari banyak ragam yang berkembang pada masanya. Teknik penulisan prasasti pun berbeda dengan prasasti-prasasti pada umumnya. Dengan menggunakan teknik pahat relief, maka huruf yang dihasilkan menonjol ke luar. Teknik ini jauh lebih sulit ketimbang teknik gores karena membutuhkan energi yang lebih dan tingkat kehati-hatian yang super tinggi. Di Candi Sukuh, kita akan disuguhi beragam teka-teki terkait dengan kehadirannya di Pegunungan Lawu, arsitekturnya, relief-reliefnya, arca-arcanya, prasasti-prasastinya, serta konsep ideologis yang melatarbelakanginya.

Di atas Candi Sukuh, terdapat Candi Ceto. Candi Ceto merupakan satu bukti bahwa kekuasaan bisa “membeli” segalanya. Tak salah jika bentuk arsitektural Candi Ceto patut dipertanyakan karena banyaknya perubahan yang dilakukan secara fisik di candi ini. Meskipun demikian, Candi Ceto tetap menyampaikan kisahnya sendiri. Ia banyak bercerita tentang Samudramantana dan Garudeya. Samudramantana berkisah tentang pengadukan lautan susu yang akan menghasilkan air amerta atau air kehidupan. Saat proses berlangsung, terdapat dua orang yang bertaruh mengenai ekor kuda pembawa air amerta. Mereka ialah Winata –Ibu Garudeya- dan Kadru. Dengan segala kelicikan Kadru, maka ia memenangkan taruhan itu dan menjadikan Winata sebagai budaknya. Cerita kemudian berlanjut ke Cerita Garudeya. Di sini Garudeya menyelamatkan Winata yang tersandera oleh Kadru. Ia membawa air amerta yang dijaga oleh dewa. Selain dua cerita itu, di Candi Ceto terdapat pula banyak arca yang mengingatkan kita pada tradisi megalitik dengan penggambaran yang sangat sederhana.

Trip kali ini mencoba untuk melakukan lompatan waktu dari masa prasejarah ke masa sejarah. Kita akan memetik kisah dari fosil-fosil dan bentang lahan di Sangiran serta menggali misteri piramida terpotong di Candi Sukuh dan Ceto. Lompatan pertama akan sangat jauh, ke masa sekitar dua juta tahun yang lalu, sementara lompatan kedua agak sedikit dekat dari waktu kita sekarang, hanya sekitar enam ratus tahun yang lalu. Dua lompatan peradaban ini dijamin akan memberikan sensasi tersendiri. Jadi...., tunggu apa lagi, catat jadwal keberangkatannya dan pastikan Anda bergabung bersama kami.

Berikut perkiraan acara yang bakal kita jalanin bersama:
Sabtu, 19 November 2011
06.00 – 07.30      : Registrasi peserta
07.30 – 10.00      : Perjalanan ke Sangiran
10.00 – 12.00      : Kunjungan ke Museum Sangiran
è Mengintip Sangiran Purba
è Kisah Alat Batu
è Strategi Bertahan Hidup
è Tentukan Nasibmu [Simulasi Alur Pikir Kehidupan Manusia Purba]
12.00 – 13.00      : Istirahat, Makan Siang, dan Ibadah
13.00 – 14.00      : Ke Rumah Kerang [kunjungan ke singkapan kerang, indikasi laut purba di Sangiran]
14.00 – 14.30      : Cerita Dari Si Batu [seluk beluk pembuatan alat-alat batu manusia purba]
14.30 – 15.30      : Yuk, Jadi Arkeolog [pengenalan proses ekskavasi/penggalian di dalam Arkeologi]
15.30 – 16.00      : Kubah Sangiran [mengamati lansekap Sangiran dari Gardu Pandang]
16.00 – 18.00      : Perjalanan menuju Candi Sukuh
18.00 – 19.30      : Istirahat, mandi-mandi, ibadah, makan malam
19.30 – 22.00      : Mari Merapat [tukar sapa, cerita seputar kerajaan Majapahit di masa-masa akhir,  cerita pengantar untuk candi, games]
22.00 – 05.00      : Tidur....zzzzzzzzzz......ZZzzzzzzzz.......ZZZ..ZZZZzzzzzzz.........
Minggu, 20 November  2011
05.00 – 07.00      : Brrrrrr, Pagi di Sukuh [bangun pagi, ibadah, perjalanan menuju air terjun Jumok]
07.00 – 08.30      : Mandi-mandi dan Sarapan Pagi
08.30 – 09.30      : Misteri Piramida Terpotong [temukan kepingan cerita untuk pecahkan misteri Candi Sukuh]
09.30 – 10.30      : Dongeng-Dongeng Candi Sukuh [dongeng seputar cerita Sudhamala, Garudeya, dan beberapa relief yang ada di Candi Sukuh]
10.30 – 11.15      : Menyepi ke Ceto [Perjalanan ke Candi Ceto]
11.15 – 12.00      : Ceto Hilang Suara [eksplorasi arsitektur & kisah tentang konservasi salah kaprah di Candi Ceto]
12.00 – 13.00      : Istirahat, ibadah, makan
13.00 – 13.15      : Perjalanan ke Rumah Teh Ndoro Donker
13.15 – 14.00      : Seruput Teh Ala Jawa [bersantai sambil menikmati secangkir teh di bangunan lawas milik perkebunan teh Kemuning]
14.00 – 17.00      : Perjalanan ke Jogja

Fasilitas yang bakal didapetin:
1.       Transportasi AC Jogja-Sragen-Karanganyar [PP]
2.       Makan besar [4 kali]
3.       Teh yang dipetik dari kebun sendiri
4.       Penginapan
5.       Tiket masuk ke semua tempat wisata
6.       Isi ulang air minum
7.       Interpreter Jaladwara
8.       Secangkir teh di Ndoro Dongker
9.       Cenderamata Trip SangiranSukuhCeto
10.   Kawan baru + Pengalaman + Informasi baru :D

Fasilitas tidak termasuk:
1.       Makan pagi di hari keberangkatan.

Berhubung nanti kita akan nginep di daerah dengan suhu rendah di malam hari maka ada beberapa hal yang perlu disiapken sebelum berangkat:
1.       Tas ransel buat naruh bekal pribadi, seperti obat-obatan pribadi, wadah makan & sendok, payung, buku catetan, kamera, lotion anti nyamuk, selimut, jaket, jas hujan/rain coat, & alat tulis.
2.       Kantong tidur/sleeping bag
3.       Pakaian ganti bagi yang pengen ganti :P [karena kita menginap semalem, jadi bawa bekal pakean secukupnya saja].
4.       Makanan ringan.
5.       Botol minum, karena Jaladwara menyediakan air isi ulang. Hemat uang hemat sampah...:D
6.       Sandal atau sepatu yang nyaman buat dipake jalan-jalan.
7.       Topi bagi yang ga gitu tahan sama cuaca panas.
8.       Kresek bekas untuk wadah sampah pribadi.

Bagi yang berminat untuk gabung, bisa mendaftarkan diri melalui:
1.       Hubungi:
a.       Jaim [jaimpoutz@gmail.com ; 085643040230]
b.      Inu [minoritaskiri@gmail.com ; 085643311441]
2.       Selanjutnya, melakukan transfer ke rekening berikut:
Bank BCA: 0373062143 [Cabang Jogja a.n Kristanti Wisnu Aji Wardani]
Bank Mandiri: 1430004313217 [Cabang Lumajang a.n Bayu Erliaji]
3.       Melakukan konfirmasi ke Inu dengan cara mengirimkan pesan singkat (SMS) berisi:
a.       Kata kunci: SANGIRANSUKUHCETO
b.      Nama Lengkap:
c.       Bank Tujuan:
d.      Tanggal/Bulan Transfer:
e.      Jumlah Transfer:
Contohnya seperti ini: SANGIRANSUKUHCETO/BRAWIJAYA/BCA/9NOVEMBER/290.000
4.       Tanda bukti transfer harap disimpan dan ditunjukkan saat registrasi ulang.
5.       Tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan lagi, namun bisa banget kalo dihibahkan kepada orang lain.

YANG PERLU DIINGET:
Pendaftaran dibuka pada 3 November 2011 dan ditutup pada 16 November 2011. Demi kenyamanan bersama kami hanya menyediakan 30 tiket saja.

Biaya untuk tiket:
Titik awal Yogyakarta: Rp 290.000 [kumpul di Benteng Vredeburg, Yogyakarta pukul 06.00]

Teriring salam,
JALADWARA: Buka Mata Kenali Nusantara

2 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys